Kembali lagi kita membahas sekolah tercinta para admin ini. Sekolah SMAK St. Louis 1 Surabaya!
Sekolah kami mengadakan kegiatan yang menyenangkan, yaitu imersi. Imersi ini merupakan kegiatan perutusan untuk kami para siswa dan siswi untuk berbagi kebaikan, pengalaman ,dan belajar dari mereka yang kami tinggal menjadi lebih baik. Imersi ini bukan hanya sekedar kegiatan biasa, tetapi bagi kami merupakan hiburan semata yang dapat membuat kami lepas dari kegiatan belajar mengajar sebentar dan belajar dari kondisi dan lingkungan di sekitar masyarakat kita. Nah, admin mau berbagi cerita sedikit nih dari seorang teman kita yang bernama Kevin. Siswa ini mendapat imersi di tempat Novisiat SVD, belajar bagaimana kehidupan sang frater yang akan menjadi Romo saat lulus nanti atau lainnya. Inilah dia kisah dari program kegiatan yang telah dilaksanakan disekolah kami. Enjoy!

ANUGERAH TERINDAH DALAM HIDUPKU

11 Desember 2018, aku melangkahkan kaki ku di sekolah SMAK St. Louis 1 Surabaya dengan mengendarai kuda besiku. Dengan mantap dan penuh persiapan diri, aku pun menuju ruang V Hall karena kami akan mendapatkan pengarahan dari guru-guru kami. Kami akan mengadakan kegiatan imersi sebentar lagi. Imersi merupakan kegiatan untuk pendalaman diri siswa dan siswi sehingga kami dapat belajar menjadi lebih baik lagi dengan mengikuti orang-orang yang kita ajak bersosialisasi. Sayang sekali pada saat itu banyak yang ribut pada saat guru berbicara sehingga saat aku mendengarkan guru berbicara, sedikit terjadi miss communication. Selesai pengarahan serta pembekalan untuk imersi, kami diberikan waktu istirahat yang menurutku cukup cepat. Pada saat aku turun dari V Hall, betapa kecewanya diriku karena kantin semua tutup dan kami tidak diperbolehkan keluar sekolah.

Akhirnya, satpam pun mengijinkan kami semua untuk beli makan di belakang sekolah. Waktu kami untuk istirahat tersita banyak sekali, sekitar 15 menit. Banyak siswa dan siswi yang terlambat untuk mengikuti misa di V Hall. Selesai misa, Pak Tavip dengan Pak Widodo segera mengumumkan lokasi dimana siswa akan melakukan kegiatan imersi. Dalam hatiku, aku merasa sedikit gugup apabila tidak terpilih di dalam seminari. Tak lama kemudian, Pak Widodo menyebutkan namaku dan aku pun bersorak gembira dalam hati karena aku masuk ke dalam Novisiat SVD. Dengan segera aku memasuki ruangan sesuai yang diminta dan kami pun mendapatkan tas imersi serta briefing sementara. Setelah itu kami pun diutus pulang kembali ke rumah kami masing-masing.

Setibanya di rumah, aku pun langsung mengemasi barang-barang yang dibutuhkan dan dibawa ke tempat imersi. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan orang-orang di tempat tersebut. Selesai berkemas, aku pun langsung menyantap makan malam terakhirku sebelum pergi imersi selama 5 hari. Sebenarnya, aku tidak rela meninggalkan keluargaku dalam waktu selama itu, tetapi segalanya harus kujalani demi mendapatkan pengalaman agar dalam hidupku tidak hanya memiliki pengetahuan umum saja, tetapi pengalaman agar dapat menjadi lebih dewasa.

Hari pun berganti. Ini saatnya aku berpisah dengan keluargaku selama 5 hari. Aku pun berpamitan pada orang tuaku dan saudaraku. 45 menit perjalanan ke stasiun, aku memikirkan apa yang harus kulakukan di sana dan bagaimana bersosialisasi dengan mereka. Sesampai di stasiun, aku pun bingung karena tidak ada satu pun anak sinlui di sana sebab waktu telah menunjukkan pukul 6 pagi. Setelah aku bertanya-tanya dengan temanku, ternyata titik kumpulnya di DAOP Gubeng. Aku pun langsung bergegas pergi ke sana dan benar disana sudah banyak berkumpul anak-anak sinlui dan orang tua mereka.

Di aula DAOP, kami semua disuruh oleh para garda untuk melakukan pengecekkan tas-tas yang kami bawa. Beruntungnya aku, garda yang menggeledah tasku hanya meminta menyerahkan dompet dan tempat pensilku tidak disita. Selanjutnya aku duduk di tempat yang telah ditentukan sesuai tujuan imersi kami masing masing.

Pak Kresna, guru pendamping kami di Novisiat SVD dan Karmel, segera membagikan snack dan tiket kereta serta buku imersi yang seharusnya dibagi sejak kemarin kami di sekolah. Kami berangkat pukul sekitar pukul 07.30 dan aku duduk bersama teman-temanku di tempat duduk nomor 15 E. Sebenarnya kami duduk secara acak karena banyak siswa yang duduk tidak sesuai dengan nomor yang tertera di tiket. Aku pun sangat menikmati perjalanan dan pemandangan yang telah disediakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Akhirnya, aku membuka snack yang diberikan oleh Pak Kresna di Aula tadi pagi. Setelah itu aku memejamkan mataku untuk sejenak waktu.

Saat aku terbangun, ternyata sudah dekat dengan stasiun Malang. Segera aku dengan temanku yang satu lokasi denganku menyiapkan barang bawaan kami. Setiba di stasiun Malang, kami mengikuti Pak Kresna menuju angkot yang telah dipesan oleh pihak sekolah. Saat kami masuk ke dalam angkot, kami desak-desakkan satu dengan yang lainnya karena sempit sekali serta barang bawaan kami yang kami bawa. Sebelum itu kami sampai di stasiun Malang pukul 10.00 pagi. Dalam perjalanan kami dari stasiun ke Novisiat, sayang sekali teman kami mengalami kecelakaan karena dia duduk di pintu angkot yang terbuka karena tidak ada tempat duduk. Ia pun terjatuh dari sana saat kami masih dalam kondisi berjalan dengan kecepatan yang tidak terlalu kencang. Dengan segera, kami menyuruh bapak angkot untuk berhenti dan menepi. Guru pendamping kami berada di angkot yang satunya. Kami pun kebingungan karena tidak dapat menghubungi guru pendamping kami. Untungnya ada beberapa pemuda yang menawarkan mobilnya untuk digunakan menuju rumah sakit terdekat yang ada di Malang.

Aku dan beberapa teman-temanku yang ada di angkot kebingungan bagaimana cara menghubungi guru pendamping kami karena kami tidak mempunyai nomor telepon beliau. Sesampai di rumah sakit, kami juga dibuat bingung di sana karena tidak ada tempat parkir, akhirnya kami mencari parkir selama setengah jam, sedangkan teman-teman kami di rumah sakit segera mengurus administrasi di sana dan menunggu guru pendamping kami juga.

Setelah mendapatkan tempat parkir, sopir angkot dan Vincent ikut turun untuk pergi menjenguk Peter, sedangkan aku menjaga tas-tas temanku di angkot. Dua jam pun telah berlalu, mereka pun kembali dari rumah sakit lalu kami melanjutkan perjalanan kami menuju novisiat SVD, Batu. Kami sampai pukul 15.00, dan keadaan di sana sangatlah sunyi sebab jadwal mereka pada saat itu adalah tidur siang.

Akhirnya, jam sudah menunjukkan pukul 19.00 malam. Aku dipanggil oleh Frater Fredi untuk ikut ke pasar besok pagi. Lalu setelah diberitahu untuk pergi ke pasar, aku bersama Frater Kons ikut serta makan malam bersama teman-teman yang lainnya. Setelah makan malam, aku dan temanku yang bernama Felix melakukan sharing bersama para Frater sesuai dengan lorong kamar masing-masing. Mereka dengan senang hati membagikan sedikit cerita-cerita kocak kepada kami berdua. Kami pun tertawa terbahak-bahak pada malam itu. Selesai sharing, aku pun masuk ke kamar yang telah ditentukan, dan akhirnya pun aku tertidur pulas.

Esoknya, aku pun terbangun dari alam mimpiku dan merasa tubuhku kaku disertai dengan merasuknya dingin ke dalam saraf-sarafku, belum lagi aku akan menghadapi dinginnya air pada saat mandi nanti. Pukul 5 pagi aku langsung pergi ke kapel untuk mengikuti ibadah pagi. Yang memimpin ibadah adalah para frater dan 3 orang dari kami siswa sinlui. Aku belum mendapatkan giliran. Setelah selesai ibadah pagi, aku segera menuju dapur karena aku piket untuk memasak dan mencuci piring. Pukul 7, kami semua berkumpul diruang makan untuk makan pagi bersama, setelah itu aku bersama Leon pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan makan Frater. Sepulang dari pasar aku langsung pergi untuk membantu orang-orang yang ada di dapur lagi, seperti memotong kubis, mengupas timun, dan masak semur tahu. Jam 12 siang, kami ibadah siang lalu dilanjutkan makan siang pukul 13.00 di ruang makan juga. Seusai itu, kami tidur siang pukul 13.30 sampai 16.00 sore. Sungguh melelahkan tapi sangat menyenangkan bagiku.

Aku terbangun dari tidurku dan aku pun langsung pergi melihat-lihat di pemandangan di sana. Begitu indah tidak seperti di perkotaan. Menurutku ada hal yang berkesan dalam hatiku di sana, mereka para Frater sungguh menghayati hidup mereka dan aku ingin ikut juga menjadi seperti mereka. Mereka menaati waktu-waktu yang diberikan oleh Romo untuk beraktivitas. Waktu rekreasi malam pada hari Kamis dan Jumat, mereka pun taat dan tidak melanggar waktu yang ditentukan. Aku sangat senang memilih lokasi imersi di seminari. Aku belajar banyak dari sana seperti bagaimana cara untuk bertugas menjadi lektor.

Hari Minggu merupakan hari terberat dalam hidupku disana selama 5 hari. Kami akan berpisah dengan mereka pukul 12.00 siang. Sebelumnya aku pergi untuk misa dengan para Frater pukul 6 pagi. Kami mengikuti ibadah dengan khusyuk dan penuh dengan keyakinan. Selesai misa, kami kembali ke novisiat dan para Frater   memberikan aku dan teman-temanku beberapa kenang-kenangan. Sungguh membuatku sedih seakan akan berpisah dengan mereka selamanya. Kami pun pulang ke Surabaya bersama dengan teman-teman yang lainnya setelah itu.

Dari situ aku berpikir, mereka yang disana para Frater dikarantina tidak boleh memegang HP dapat bersuka cita disana. Sedangkan aku yang berkecukupan tidak merasakan kebahagiaan. Sungguh kita disini yang berkecukupan haruslah berpikir dengan benar bahwa kebahagiaan sebenarnya bukanlah dari harta, melainkan kebersamaan. Dengan adanya kebersamaan maka anda semua dapat merasakan susah, senang, sedih, gembira, dan sengsara. Itulah yang aku dapatkan dari imersi pada tahun ini.

 

Itulah cerita sedikit dari imersi yang dialami di Novisiat SVD oleh Kevin. Sebenarnya bukan hanya Novisiat SVD yang dikunjungi, tetapi banyak mulai dari panti asuhan, kampung-kampung masyarakat, kesusteran, dan masih banyak lagi. Kami belajar dari sana untuk menjadi lebih peduli dengan keadaan sekitar, tidak hanya lalu lalang saja tanpa memperhatikan yang lain. Semoga dari apa yang telah dibagikan dapat menjadikan ajaran dan kesimpulan bagi diri sendiri untuk mencerna keadaan di sekitar. Tuhan Memberkati Sobat Tuber! 🙂

One Reply to “Imersi Berkesan Dalam Hati”

  1. Gimana ya rasanya di SVD ini, mendalami iman bersama. Btw aku pensaran gimana temen-temen yang lainnya, imersi kemana mereka? apakah sama serunya seperti ke SVD? Share tempatnya juga ya bro biar aku bisa mampir juga kapan-kapan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *